Minggu, 08 Januari 2012

fotograpi jurnalistik


oleh: Abdul Rohman
BAB I
Pendahuluan

Fotografi jurnalistik muncul dan berkembang di dunia sudah lama sekali, tetapi lain halnya dengan di Indonesia, foto pertama yang di buat oleh seorang warga negara Indonesia terjadi pada detik-detik ketika bangsa ini berhasil melepaskan diri dari belenggu rantai penjajahan. Alex Mendur (1907-1984) yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang Domei, dan adiknya sendiri Frans Soemarto Mendur (1913-1971), mengabadikan peristiwa pembacaan teks Proklamasi kemerdekaan republik Indonesia dengan kamera Leica, dan pada saat itulah pada pukul 10 pagi tanggal 17 Agustus 1945 foto jurnalis Indonesia lahir.
Batasan sukses atau tidaknya sebuah foto jurnalistik tergantung pada persiapan yang matang dan kerja keras bukan pada keberuntungan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada foto yang merupakan hasil dari "being in the right place at the right time" . Tetapi seorang jurnalis profesional adalah seorang jurnalis yang melakukan riset terhadap subjek,mampu menetukan peristiwa potensial dan foto seperti apa yang akan mendukungnya (antisipasi). Itu semua sangat penting mengingat suatu moment yang baik hanya berlangsung sekian detik dan mustahil untuk diulang kembali
Etika, empati, nurani merupakan hal yang amat penting dan sebuah nilai lebih yang ada dalam diri jurnalis foto.
Seorang jurnalis foto harus bisa menggambarkan kejadian sesungguhnya lewat karya fotonya, intinya foto yang dihasilkan harus bisa bercerita sehingga tanpa harus menjelaskan orang sudah mengerti isi dari foto tersebut dan tanpa memanipulasi foto tersebut.

- Seluk-beluk fotografi dan perkembangannya
Manusia sejak lama memang sudah lama tertarik pada dunia gambar-menggambar,hal itu terbukti dari penemuan objek gambar di gua-gua pada masa purba, seperti yang pernah ditemukan di Altamira, Spanyol dan Cromagnon, Perancis.
Pada perkembangannya, manusia muncul keinginan untuk mem-visualisasi-kan apa yang mereka lihat ke dalam bentuk-bentuk benda yang menjadi cikal bakal pemakaian Pictogram (Tulisan yang berbentuk gambar) seperti yang ditemukan di Mesir purba (Hieroghlyp), Sumeria (paku), dan lain-lainnya.

Adapun perkembangan fotografi tidak terlepas penemuan penting Ibnu Haitam dengan kamera Obskura-nya. Dengan penemuan yang berbentuk ruangan gelap dan di lensa sebagai tempat keluarnya cahaya, maka dunia "jepret-menjepret" pun dimulai.
Zaman pun berlalu, penemuan baru pun ditemukan. Kali ini sebuah kaca dijadikan alat untuk menangkap cahaya yang sebelumnya telah dilapisi dengan zat kimia tertentu. Alat ini merupakan cikal bakal kamera modern. Setelah penemuan yang penting itu, pers pun akhirnya memakai penemuan tersebut untuk proses fotografinya. Kira-kira pada abad ke-19 ditetapkan sebagai abad perkembangan fotografi (History of Photography, Alma Daveport, 1991). Untuk pemakaian pertama, yaitu pada tahun 1653. Harian Holladsche Mercurius memuat gambar penobatan Cromwell menjadi raja Inggris Raya.
Sebagai gambaran, bahwa dengan adanya pemakaian kamera ini, media-media pada zaman dahulu lebih banyak diminati dan memacu meningkatnya jumlah oplah yang tercetak. Terbukti pada tahun 1914, Time mampu mencetak 200.000 oplah, dan bahkan pada tahun 1925, Illustrated Daily News mencetak lebih dari 1.000.000 oplah!
Betapa besar pengaruhnya di media, sehingga tidak heran jika belakangan ini timbul ide untuk mengapresiasikan karya tersebut dengan penghargaan tingkat internasional, yang terkenal dengan Pulitzer Award. Pada era sekarang pun, fotografi jurnalistik sudah dikategorikan dalam sebuah seni.



BAB II
PEMBAHASAN

1.1 pengertian foto jurnalistik
Foto jurnalistik adalah jenis foto yang digolongkan sebagai foto yang bertujuan dalam permotretannya karena keinginan bercerita kepada orang lain. Jadi foto-foto di jenis ini kepentingan utamanya adalah keinginan dalam menyampaikan pesan (massage) pada orang lain dengan maksut agar orang lain melakukan sesuatu tindakan psikis maupun psikologis.
Banyak orang awam yang beranggapan bahwa yang disebut fotojurnalistik itu hanyalah foto-foto yang dihasilkan oleh para wartawan foto saja. Padahal fotojurnalistik sebenarnya mencakup hal yang sangat luas. Foto-foto advertensi, kalender, postcard adalah juga bisa dikatakan jenis fotojurnalistik.
Dalam buku serial Photojournalistic yang diterbitkan oleh Time Life diungkapkan bahwa: Sementara foto-foto yang dihasilkan oleh para wartawan foto seperti yang kita lihat di media massa adalah pers foto (foto berita) yang penekanannya pada perekaman fakta otentik.
Misalnya foto yang menggambarkan kebakaran, kecelakaan, pengusuran. Foto berita, foto advertensi dan sebagainya itu semua ingin menceritakan sesuatu yang pada gilirannya akan membuat orang tersebut bertindak (feedback) . Foto-foto jurnalistik ini disiplinnya lebih banyak  membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pengaruh imaji tersebut bagi pemerhatinya.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa foto jurnalistik atau khususnya persfoto yang baik adalah foto yang memiliki pesan yang jelas dari sebuah peristiwa, tetapi dibuat dengan kemampuan teknologi secara otentik.
Untuk mencapai ini tentunya kita harus menguasai dua basic yang berbeda tadi. Yaitu pendekatan teknis serta pendekatan konseptual. Pada pendekatan teknis, seorang pemotret dituntut mengetahui dan menguasai betul segala aspek teknis dalam pemotretan yang mencakup, kamera, lensa dan aksesoris lainnya sebagai penunjang.
Definisi dari fotojurnalistik dapat diketahui dengan menyimpulkan ciri-ciri yang melekat pada foto yang dihasilkan itu. Biasanya foto jurnalistik memiliki ciri-ciri yang melekat seperti; Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri.
Melengkapi suatu berita/artikel dan dimuat dalam suatu media baik media cetak maupun media online. Sebuah foto dapat berdiri sendiri, tapi jurnalistik tanpa foto rasanya kurang lengkap. Sehingga timbul pertanyaan, mengapa foto begitu penting ? Karena foto merupakan salah satu media visual untuk merekam/mengabadikan atau menceritakan suatu peristiwa dan memiliki akurasi yang hakiki.
Kebenaran sebuah peristiwa tak bisa terbantahkan dengan kehadiran sebuah karya fotojurnalistik. Di dalam fotojurnalistik sendiri tidak ada suatu yang dibuat-buat, tidak adasesuatu yang direkayasa. Perstiwa begitu saja terjadi, yang kemudian diabadikan dalam sebuah bentuk fisual yang kemudian disiarkan, melalui media cetak maupun online.
Maka diharamkan apabila seorang jurnalis foto melakulan rekayasa dengan menambah atau mengurangi atau mengubah terhadap karya fotonya. Karya memang benar-benar terjadi apa adanya. Sebuah fakta yang terjadi yang direkam dalam sebuah media bergambar.
Itu sebabnya seorang fotojurnalis dituntut memiliki moralitas dan kejujuran yang tinggi. Dengan moralitas dan idialisme yang positif, seorang fotojurnalis mampu menyajikan sebuah fakta yang benar-benarjujurdahakiki.
Menurut mantan Redaktur Foto Kompas almarhum Kartono Ryadi, semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi.
Perbedaan foto jurnalis adalah terletak pada pilihan, membuat foto jurnalistik berarti memilih foto mana yang cocok. Dia mencontohkan dalam peristiwa pernikahan, dokumentasi berarti mengambil/memotret seluruh peristiwa. Mulai dari penerimaan tamu hingga usai acara. Tapi seorang wartawan foto hanya mengambil sisi-sisi yang dianggap menarik saja. Karena memang peristiwa itu nantinya akan menjadi pilihan wartan foto untuk dimuat di dalam medianya saja.
2.1 proses fotografi jurnalistik
  1. Pocket/compact. Kamera saku. Populer bagi orang awam, sederhana dan mudah dioperasikan. Menggunakan film format 35mm.
  2. Rangefinder. Kamera pencari jarak. Kecil, sekilas mirip dengan kamera saku. Bedanya, kamera ini mempunyai mekanisme fokusing (karenanya disebut rangefinder). Umumnya menggunakan film format 35mm.
  3. SLR, Single Lens Reflex. Kamera refleks lensa tunggal. Populer di kalangan profesional, amatir dan hobiis. Umumnya mempunyai lensa yang dapat diganti. Menggunakan film format 35mm. Disebut juga kamera sistem.
  4. TLR, Twin Lens Reflex. Kamera refleks lensa ganda. Biasanya menggunakan format medium.
  5. Viewfinder. Biasanya menggunakan format medium.
Komposisi dan Angle.
Komposisi adalah penempatan obyek dalam frame foto
Angle adalah sudut pemotretan, dari bawah, atas, atau sejajar.
Komposisi dan angle lebih menyangkut ke seni dari fotografi. Faktor selera fotografer sangat besar pengaruhnya
Shooting mode
  1. P, program AE. Mirip dengan mode auto dengan kontrol lebih. Dengan mode ini kita bisa mengontrol exposure compensation, ISO, metering mode, Auto/manual fokus, white balance, flash on/off, dan continues shooting.
  2. Tv, shutter speed priority AE. Kita menetukan speed, kamera akan menghitung aperture yang tepat.
  3. Av, aperture priority AE. Kita menentukan aperture, kamera mengatur speed.
  4. M, manual exposure. Kita yang menentukan aperture dan speed secara manual.
Komposisi dan Anglez
Mode auto, mode point and shoot, tinggal bidik dan jepret.
  1. Full auto, kamera yang menentukan semua parameter.
  2. Portrait, kamera menggunakan aperture terbesar untuk menyempitkan DOF.
  3. Landscape, kamera menggunakan aperture terkecil.
  4. Nightscene, menggunakan kecepatan lambat dan flash untuk menangkap obyek dan BG sekaligus.
  5. Fast shuter speed
  6. Full auto, kamera yang menentukan semua parameter.
  7. Portrait, kamera menggunakan aperture terbesar untuk menyempitkan DOF.
  8. Landscape, kamera menggunakan aperture terkecil.
  9. Nightscene, menggunakan kecepatan lambat dan flash untuk menangkap obyek dan BG sekaligus.
  10. Fast shuter speed
  11. Slow shutter speed
12.  Slow shutter spe
3.1 bentuk bentuk kamera
a. Kamera manual dan kamera otomatis. Kamera-kamera SLR terbaru umumnya sudah dilengkapi sistem autofokus dan autoexposure namun masih dapat dioperasikan secara manual.
b. Kamera digital. Menggunakan sensor digital sebagai pengganti film.
  1. Pocket/compact. Kamera saku. Populer bagi orang awam, sederhana dan mudah dioperasikan. Menggunakan film format 35mm.
  2. Rangefinder. Kamera pencari jarak. Kecil, sekilas mirip dengan kamera saku. Bedanya, kamera ini mempunyai mekanisme fokusing (karenanya disebut rangefinder). Umumnya menggunakan film format 35mm.
  3. SLR, Single Lens Reflex. Kamera refleks lensa tunggal. Populer di kalangan profesional, amatir dan hobiis. Umumnya mempunyai lensa yang dapat diganti. Menggunakan film format 35mm. Disebut juga kamera sistem.
  4. TLR, Twin Lens Reflex. Kamera refleks lensa ganda. Biasanya menggunakan format medium.
  5. Viewfinder. Biasanya menggunakan format medium.
C. Consumer. Kamera saku, murah, mudah pemakaiannya. Lensa tak dapat diganti. Sebagian besar hanya punya mode full-otomatis. Just point and shoot. Beberapa, seperti Canon seri A, memiliki mode manual.
2. Prosumer. Kamera SLR-like, harga menengah. Lensa tak dapat diganti. Shooting Mode manual dan auto.
3. DSLR. Digital SLR.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian di atas jelaslah bahwa foto jurnalistik atau khususnya persfoto yang baik adalah foto yang memiliki pesan yang jelas dari sebuah peristiwa, tetapi dibuat dengan kemampuan teknologi secara otentik.
Untuk mencapai ini tentunya kita harus menguasai dua basic yang berbeda tadi. Yaitu pendekatan teknis serta pendekatan konseptual. Pada pendekatan teknis, seorang pemotret dituntut mengetahui dan menguasai betul segala aspek teknis dalam pemotretan yang mencakup, kamera, lensa dan aksesoris lainnya sebagai penunjang.
Definisi dari fotojurnalistik dapat diketahui dengan menyimpulkan ciri-ciri yang melekat pada foto yang dihasilkan itu. Biasanya foto jurnalistik memiliki ciri-ciri yang melekat seperti; Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri. 

teknik penulisan berita




 
BAB I
PEBAHASAN

Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi. Penguasaan dasar-dasar pengetahuan jurnalistik merupakan modal yang amat penting manakala kita terjun di dunia ini. Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat dalam menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam setiap pemberitaannya.
Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism)




BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Ketika reformasi tahun 1998 digulirkan di Indonesia, pers nasional bangkitdari keterpurukannya dan kran kebebasan pers dibuka lagi yang ditandai denganberlakunya UU No.40 Tahun 1999. berbagai kendala yang membuat pers nasional"terpasung", dilepaskan. SIUUP (surat izin usaha penerbitan pers) yang berlaku diera Orde baru tidak diperlukan lagi, siapa pun dan kapan pun dapat menerbitkanpenerbitan pers tanpa persyaratan yang rumit.
Dan euforia reformasi pun hampir masuk, baik birokrasi pemerintahanmaupun masyarakat mengedepankan nuansa demokratisasi. Namun, denganmaksud menjungjung asa demokrasi, sering terjadi "ide-ide" yangpermunculannya acap kali melahirkan dampak yang merusak norma-norma danetika. Bahkan cenderung mengabaikan kaidah profesionalisme, termasuk bidangprofesi kewartawanan dan pers pada umumnya.
Malah kalangan instansi pemerintahan swasta dan masyarakat ada yangberpandangan sinis terhadap aktivitas jurnalistik yang dicap tidak lagimenghormati hak-hak narasumber. Penampilan pers nasional/daerah pun banyakmenuai kritik dan dituding oleh masyarakat. Sementara disisi alin banyak contohkasus dan kejadian yang menimpa media massa, dan maraknya initmidasi setakekerasan terhadap wartawan
Pada tahun 2003-2004, perkara yang menarik perhatian public yaitu menimpadua mass media nasional Harian "Kompas" dan grup MBM "Tempo" digugat grupPT Texmaco ke PN Jakarta Selatan. Kedua perkara tersebut kemudian dicabutketika proses perkaranya sedang berjalan dipersidangan. Dalam kasus "RakyatMerdeka", majelis hakim memutuskan bahwa pemred Rakyat merdeka dihukumkarena terbukti turut membantu penyebaran.
.Peningkatan kuantitas penerbitan pers yang tajam (booming), tidak disertai
dengan pernyataan kualitas jurnalismenya. Sehingga banyak tudingan "miring"yang dialamatkan pada pers nasional. Ada juga media massa yang dituduhmelakukan sensionalisme bahasa melalui pembuatan judul (headlines) yangbombasis, menampilkan "vulgarisasi:

2.1. proses teknik penulisan berita
Nilai Berita
Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa hal, seperti berikut.
1.      Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
2.      Aktual: terbaru, belum "basi".
3.      Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.
4.      Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
5.      Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).
Lima nilai berita di atas menurut Kris Budiman sudah dianggap cukup dalam menyusun berita. Namun, Masri Sareb Putra dalam bukunya "Teknik Menulis Berita dan Feature", malah memberikan dua belas nilai berita dalam menulis berita (2006: 33). Dua belas hal tersebut di antaranya adalah:
1.      sesuatu yang unik,
2.      sesuatu yang luar biasa,
3.      sesuatu yang langka,
4.      sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
5.      menyangkut keinginan publik,
6.      yang tersembunyi,
7.      sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
8.      sesuatu yang belum banyak/umum diketahui,
9.      pemikiran dari tokoh penting,
10.  komentar/ucapan dari tokoh penting,
11.  kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan
12.  hal lain yang luar biasa.
Dalam kenyataannya, tidak semua nilai itu akan kita pakai dalam sebuah penulisan berita. Hal terpenting adalah adanya aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi tersebut.
3.1 Anatomi Berita dan Unsur-Unsur
Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut.
1.      Judul atau kepala berita (headline).
2.      Baris tanggal (dateline).
3.      Teras berita (lead atau intro).
4.      Tubuh berita (body).
Bagian-bagian di atas tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Atau dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum dahulu baru ke hal yang khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian tidak/kurang penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita (Budiman 2005) . Dengan selalu mengedepankan unsur-unsur yang berupa fakta di tiap bagiannya, terutama pada tubuh berita. Dengan senantiasa meminimalkan aspek nonfaktual yang pada kecenderuangan akan menjadi sebuah opini.
Untuk itu, sebuah berita harus memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W + 1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar komunikasi (Masri Sareb 2006: 38).
1.      Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
2.      What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
3.      Where - di mana terjadinya peristiwa itu?
4.      Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
5.      When - kapan terjadinya?
6.      How - bagaimana terjadinya?
Contoh:
Dua orang pria, Sudin (43) tahun dari Sidoarjo dan
Simin (18) tahun dari Solo meninggal pagi ini jam
04.30 di perempatan Jalan Nusantara dan
Hayam Wuruk akibat ditabrak bus Merantama
yang berlari kencang dan tidak lagi dapat
dikendalikan
Ket: 5W dan 1H semuanya terdapat dalam contoh
        teras berita tersebut.

Macam Gaya Penulisan Teras Berita Berdasarkan Unsur 5W dan 1H
  1. Teras Berita Apa (What)
        Penataran wartawan agama seluruh Indonesia telah
        dibuka dengan resmi kemarin pagi oleh Menteri
        Agama Petruk Gareng Bagong, S.Ag., M.Ag. di
        Pondok Pesantren Pabelan.
.  Teras Berita Siapa (Who)
        Menteri Agama Petruk Gareng Bagong kemarin pagi
        dengan bertempat di Pondok Pesantren Pabelan
        telah membuka penataran wartawan agama seluruh
        Indonesia.
.  Teras Berita Di mana (Where)
        Di pondok pesantren Pabelan Yogjakarta, kemarin
        pagi telah dibuka dengan resmi oleh Menteri Agama
        Petruk Gareng Bagong penataran wartawan agama
Teras Berita Kapan (When)
        Kemarin pagi dengan bertempat di Pondok Pesantren
        Pabelan oleh Menteri Agama telah dibuka penataran
        wartawan agama tingkat nasional ke-2.

Teras Berita Mengapa atau Bagaimana  (Why)
        Untuk meningkatkan mutu wartawan agama dan
        meningkatkan kerukunan agama kemarin pagi
        oleh menteri agama Petruk Gareng Bagong telah
        dibuka penataran wartawan agama tingkat nasional

Tidak hanya sebatas berita, bentuk jurnalistik lain, khususnya dalam media cetak, adalah berupa opini. Bentuk opini ini dapat berupa tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom (column), pojok dan surat pembaca..
1.      Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
2.      Proses wawancara.
3.      Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
4.      Partisipasi dalam peristiwa.
Sifat Berita
  1. Mengarahkan (Directive), karena berita ini dapat mempengaruhi khalayak, baik disengaja atau tidak. Maka berita ini sifatnya mengarahkan
  2. Menbangkitkan Perasaan (effectife), melalui berita ini dapat membangkitkan perasaan public
  3. Memberi Informasi (Informatife), berita in harus memberi informasi tentang keadaan yang terjadi sehingga memberi gambaran jelas dan menjadi pengetahuan public.
4.1 Kaidah-kaidah Penulisan Berita
Dalam penulisan berita, dalam hal ini menkonstruk peristiwa (fakta) tidaklah semena-mena. Penulisan berita didasarkan pada kaidah-kaidah jurnalistik. Kaidah-kaidah tersebut biasa dikenal dengan konsep ABC (Accuracy, Balance, Clarity).
Accuracy (akurasi)
    1. Dapatkan berita yang benar
    2. Lakukan re-cek terhadap data yang diperoleh
    3. Jangan mudah berspekulasi denga isu atau desas-desus
    4. Pastikan semua informasi dan data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan kewenangan dan keabsahannya.







BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan:
1. Bahasa Indonesia Jurnalistik adalah bahasa Indonesia yang digunakan oleh kalangan Jurnalis. Bahasa yang digunakan sesuai kaidah bahasa Indonesia sebagaimana diatur dalam EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), namun penggunaannya telah disesuaikan dengan karakteristik media massa: ditujukan untuk umum, memiliki ruang/waktu terbatas, serta berusaha memenangkan persaingan.
2.Syarat bahasa Indonesia Jurnalistik adalah: 1) akurat dan mudah dipahami, 2) singkat dan padat, dan 3) menarik.
3. Akurat artinya penulisannya tepat, yaitu pemilihan kata dan atau kalimat mampu menggambarkan keadaan/persoalan yang hendak disampaikan secara tepat. Sedangkan mudah dipahami artinya tiap kata/kalimat yang digunakan harus dipahami semua khalayak.
4. Singkat dan padat artinya mampu menggambarkan keadaan atau persoalan secara tepat dan mudah dipahami dengan menggunakan kata sedikit mungkin sesuai jatah ruang/waktu.
5. Menarik artinya harus mampu memilih kata dan kalimat yang dapat menarik khalayak untuk membaca/mengikuti seluruh isi tulisan.

proposal skripsi 1


STRATEGI DAKWAH DALAM ORGANISASI MUHAMMADIYAH
KECAMATAN SUMBER KAB CIREBON


A.    Latar Belakang Masalah
Dakwah merupakan kegiatan, yang dijadikan tumpuan seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya peran dakwah tersebut komponen masyarakat dapat memiliki sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Dengan tiga komponen yang harus dimiliki oleh masyarakat yang terdiri dari berbagai individu, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap maka diharapkan setiap individu masyarakat itu dapat bermanfa’at bagi dirinya dan lingkungannya.
Allah berfirman :

والتكن منكم امة يدعون الي الخير ويا مرون بالمعروف وينهون عن المنكر

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung

Pada prosesnya ilmu kajian tentang dakwah sekarang sudah semakin marak dipelajari ,menjadi disiplin ilmu dan dikemas melalui sebuah lembaga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, sehingga tidak dapat dipungkiri dengan adanya lembaga perguruan tinggi yang berorientasi pada jurusan dakwah maka akan menghasilkan mahasiswa atau out put para da’I yang akan berdakwah melalui  lisan dan tulisan. 
Begitu pula dengan muhammadiyah sebagae wadah dakwah untuk masyarakat sekitarnya, Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan dengan 18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KH Ahmad Dahlan
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah” (kegiatan Kyai Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta tersebut, merupakan ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kyai Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum.

B.     Perumusan Masalah

  1. Identifikasi masalah
a)      Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian ini adalah setrategi dakwah dalam organisasi muhammadiyah kecamatan sumber kab cirebon
b)      Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan empirik yaitu pengkajian terhadap teori-teori dan lapangan sebagai sumber pemecahan masalah.
c)      Jenis Masalah
Masalah dalam penelitian ini efektifkah setrategi dakwah muhammadiyah melalui pemvbangunan pendidikan dan pembangunan rumah sakit disekitar masyarakat.

2. Pembatasan Masalah
            Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dan meluasnya pembahasan masalah yang diteliti, maka perlu kiranya penulis memberikan pembatasan masalah dalam penelitian ini, yaitu:
a). Usaha anggota muhammadiyah dalam menerapkan pengetahuannya  yang diadaftasikan dengan perkembangan tatanan dan masalah di masyarakat.
b). Hasil atau ped back dari Masyarakat sebagai objek    dakwah.
c). Pengaruh Adanya organisasi muhammadiyah dengan para anggota jamaah muhammadiyah Terhadap Masyarakat sekitar Cirebon sebgai Target dakwah .

3. Pertanyaan Penelitian
            Dari permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian, sebagai berikut :
a.       Bagaimana peranan anggota muhammadiyah cabang cirebon itu sendiri dalam melakukan dakwahnya dan berinteraksi dengan Masyarakat.
b.      Apa yang membedakan peranan dakwah anggota muhammadiyah  dibanding dengan organisasi islam lainya dalam berdakwah
c.       Seberapa besar pengaruh keberadaan anggota jamaah muhammadiayah dalam menentukan stabilitas keagamaan di lingkungan masyarakat cirebon

C. Tujuan Penelitian
1.      Untuk memperoleh data tentang peranan organisasi muhammadiyah cabang Cirebon terhadap anggotnya Yang mempunyai peran strategis dalam berdakwah di masyarakat.
2.      Untuk memperoleh data tentang hasil berdakwah anggota muhammadiyah di kalangan masyarakat Cirebon dengan adanya pembangunan rumah sakit dan pembangunan pendidikan muhammadiyah.
3.      Untuk mengetahui data tentang pengaruh keberadaan anggota muhammadiyah dalam menentukan stabilitas keagamaan di lingkungan masyarakat cirebon.

D. Kerangka Pemikiran
  Masalah dakwah islamiyah adalah masalah yang sangat penting dalam kehidupan. Bukan saja sangat penting, bahkan masalah dakwah  itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat islam. Baik dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan umat beragama. Maju mundurnya sebuah umat sebagian besar ditentukan oleh maju mundurnya peran dakwah itu.

Mengingat sangat pentingnya dakwah islamiah itu maka para tokoh keagamaan terdahulu mendirikan sebuah organisasi (muhammadiyah) dakwah yang tersebar diseluruh Indonesia dengan tujuan untuk mencetak calon-calon Da’I yang akan berdakwah di masyarakat baik dakwah secara lisan ataupun tulisan dengan menggunakan media cetak dan elektronik. Kelahiran organisasi ini pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama ”MUHAMMADIYAH”. kajian dakwah sangat mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan wawasan keislaman dan dunia dakwah di masyarakat, karena seyogyanya anggota muhammadiyah di ajarkan tentang bagaimana cara berdakwah yang baik.

E. Hipotesis
(2002:64) hipotesis diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dalam hal ini membuat hipotesis sebagai berikut :
Ho :     Adanya pengaruh yang signifikan peran setrategi dakwah dalam organisasi muhammadiyah kecamatan sumber kab Cirebon.
Ha :     Tidak adanya pengaruh yang signifikan dalam  peran strategis mahasiswa dakwah  terhadap         hasil dakwah di masyarakat wilayah III cirebon.

F. Sistematika Penulisan
Bab I, Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah,        perumusan masalah yang terdiri dari:
1) identifikasi  masalah,
2) pembatasan masalah, dan
3) pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis dan sistematika penulisan.
Bab II, Landasan teoritis dari konsep keberadaan     mahasiswa dakwah dalam melakukan perannya         sebagai kader Da’i.
Bab III, Metode penelitian yang berisikan populasi dan        sampel penelitian, instrumen penilaian, metode dan             desain penelitian, pelaksanaan penelitian dan             prosedur pengolahan data.
Bab IV, Pembahasan hasil penelitian yang berisikan deskripsi data, analisis data dan pengujian hipotesis.
Bab V, Penutup berisikan kesimpulan akhir dari penelitian   yang dilaksanakan di lingkungan Fakultas Adab Dakwah dan Ushuludin (ADADIN) Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nur Jati Cirebon